Kemerdekaan Republik Indonesia ini bukan karena diberi dan mendapatkan hadiah dari penjajah, tetapi melalui perjuangan heroik penuh dengan keringat, air mata bahkan berdarah-darah. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin yang pada saat itu melakukan gerilya dari Sumber Wringin Sukowono menuju Garahan Silo, Jember dalam rangka mengusir penjajah Jepang dari Bumi Jember. Keberhasilan inilah yang menobatkan Beliau sebagai “Pahlawan Nasional”. Demikian inti sambutan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Sumber Wringin, Sukowono pada saat pemberangkatan regu napak tilas taruna dan taruni SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Jember pada hari Senin,18 Agustus 2025 pukul 06.00.
Napak tilas pahlawan nasional ini merupakan agenda rutin SMK Perikanan dan Kelautan Puger yang diikuti semua calon santri taruna, taruna santri kelas X, sebagai bagian dari kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang di SMK Perikanan dan Kelautan Puger dikemas dan diperluas dalam kegiatan Latihan Dasar Disiplin Korps (LDDK) yang dilakukan selama satu bulan penuh. Di samping diikuti semua calon taruna kelas X juga diikuti oleh semua staf batalyon (pengurus OSIS) dan semua guru dan staf sekolah, dengan total 160 orang.
Tujuan kegiatan napak tilas pahlawan nasional ini adalah untuk melacak, mewarisi, dan meneladani nilai-nilai perjuangan KHR. Asad Syamsul Arifin dalam berjihad menegakkan negara dan bangsa yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Hal ini sesuai dengan misi Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darsul Bihar, SMK Perikanan dan Kelautan Puger yaitu membentuk lulusan yang relegius berdisiplin tinggi berkarakter, bertanggung jawab dan cinta tanah air. Nilai-nilai relegius dalam perjalanan gerilya sang Kiai Karismatik ini tampak dalam jejak langkah yang dilalui dan diikuti para taruna santri dan santri taruna dalam napak tilas ini. Tanda jejak yang diwariskan itu adalah selalu berhenti pada pondok pesantren yang dilalui selama bergerilya sebagai pos komando dan koordinasi. Di antaranya adalah Pondok Pesantren (P.P) Raudlatul Ulum Sumber Wringin, P.P. Zaidul Ali Sukowono, P.P. Miftahul Ulum Kalisat, P.P. Radlatul Ulum Ledokombo, dan Masjid Sabilal Mubtadin. Masjid ini adalah pos terakhir sebelum dilakukan serangan dan negosiasi, yang berakhir dengan damai sehingga penjajah Jepang harus hengkang dari Bumi Jember dan Indonesia.
Bersama dengan Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS) Rayon Jember sebagai pendamping dan pemandu kegiatan napak tilas ini, para peserta berjalan kaki lintas medan selama dua hari dengan jarak tempuh 60 km. Sepanjang lintasan napak tilas masyarakat sangat berantusias dan mengapresasi keberadaan para pejuang muda taruna taruni ini, tidak sedikit yang menyediakan tempat untuk jeda sebentar dan sajian mamari dan minuman sampai peserta napak tilas tiba dilokasi finish. Tepat pukul 17.10 pada hari Selasa, 19 Agustus 2025 para peserta memasuki finish di Tugu Monumen Bersejarah KHR. As’ad Syamsul Arifin, Garahan, Silo, yaitu tempat dulu dilakukannya negosiasi antara Beliau dan tentara Jepang. Pada acara penutupan di tempat ini Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger mengucapkan terima kasih kepada semua pihak baik dari unsur IKSASS, TNI, Polri, puskesmas, dan semua masyarakat yangn telah mendukung dan berpartisipasi pada kegiatan ini. Pada kesempatan ini Kepala Sekolah Drs. H. Kuntjoro Basuki, M.Si menjelaskan bahwa kegiatan napak tilas ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada KHR. As’ad Syamsul Arifin yang telah berjasa “mengusir” penjajah Jepang. Kiai yang kita banggakan ini bukan hanya sekedar guru bangsa, tetapi adalah pejuang tangguh yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan bangsa, ujarnya.
dokumentasi pemberangkatan dari PP. Raudhatul Ulum Sumber Wringin-Sukowono
dokumentasi finish di lapangan garahan – silo